Sekilas Info
Ini contoh teks berjalan. Isi dengan tulisan yang menampilkan suatu ciri atau kegiatan penting di desa anda.

ARTIKEL

Sejarah Desa

26 Agustus 2016 Administrator 748 Kali Dibaca

Alkisah Sunan Giri Wasiyat, Sunan Giri Pit, dan Nyai Sekati tengah melakukan pengembaraannya, mencari daerah baru sebagai pusat penyebaran agama Islam. Perjalanan berawal dari Banjar Petambakan, berpindah ke Banjar Watu Lembu (Banjarkulon), hingga tiga bersaudara ini berlanjut mengembara ke arah utara, menuju daerah perbukitan yang sejuk, sunyi, dan masih lengang.

Pengembaraan tiga bersaudara dilakukan tanpa mengenal lelah dengan berjalan kaki tapak demi tapak. Tanpa terasa matahari telah lurus sejajar dengan bayang tubuh mereka bertiga. Waktu sudah menunjukkan siang hari, saatnya beristirahat dan melakukan ibadah shalat Dhuhur. Rasa haus dan lapar sudah mulai terasa. Berhentilah mereka di suatu daerah untuk sekedar melepas penat sekalian mengisi perut dengan bekal makanan yang telah mereka persiapkan.

“Kita beristirahat di sini, sepertinya terdengar suara gemercik sungai yang tidak terlalu jauh. Kita bisa sekedar membersihkan badan dan berwudlu” ujar Sunan Giri Wasiyat kepada kedua adiknya, Sunan Giri Pit dan Nyai Sekati. Rupanya di bawah batu besar dan rata tempat mereka duduk, mengalir sungai sangat jernih yang langsung keluar dari mata air. Sepanjang sungai ditumbuhi pepohonan rindang yang melindungi mereka bertiga dari terik sinar matahari. Segera mereka beristirahat, menggelar tikar, dan mengeluarkan perbekalan. Setelah bungkusan dibuka, di dalamnya ada sebuah periuk berisi nasi dengan lauk sekedarnya. Sunan Giri Pit segera mengeluarkan bekal minumnya yang ditampung dalam bambu. Tangannya mengeluarkan tiga buah batok kelapa lalu dituangkannya minuman ke dalam batok tersebut. Satu untuk Sunan Giri Wasiyat, satu untuk Nyai Sekati, dan satunya lagi untuk dirinya sendiri.

Selesai makan waktunya sudah masuk saatnya salat Dzuhur, segera ketiganya menuju sungai untuk mengambil air wudlu dan salat berjamaah, diimami oleh Sunan Giri Wasiyat. Usai berdoa, Sunan Giri Pit berkata, ”Sebaiknya perlu berunding dahulu untuk pembagian wilayah sebelum melanjutkan perjalanan”.

“Aku setuju dengan usulmu, Dimas,” Sunan Giri Wasiyat menjawab sembari membalikkan badan sehingga dapat berhadap-hadapan dengan kedua adiknya.

Mereka kemudian berunding untuk membagi daerah untuk penyebaran agama Islam. Dalam perundingan yang penuh rasa kekeluargaan itu dibicarakan tentang pembagian pancah bumi (daerah). Mereka bersepakat Sunan Giri Pit mendapat bagian dari hulu sungai Merawu ke utara hingga perbatasan Kali Urang. Sedangkan Nyai Sekati mendapat daerah Gedong dari batas Kali Urang ke utara dan ke timur hingga sungai Merawu, termasuk daerah Karangkobar.

Tempat yang mereka gunakan berunding kini telah berubah menjadi bangunan masjid desa, dan wilayah ini kemudian diberi nama desa Pasenet yang berarti perundingan. Kelak dikemudian ucapan pasenet berubah menjadi Desa Kesenet. Di sinilah Sunan Giri Wasiyat bertugas sambil menunggu perkembangan yang diperoleh oleh kedua adiknya dalam menyebarkan agama Islam.

 

Kirim Komentar

Nama
No. Hp
E-mail
Isi Pesan
  CAPTCHA Image
 

Statistik

Agenda

Sinergi Program

Komentar

Belum ada komentar

Media Sosial

Peta Wilayah Desa

Peta Lokasi Kantor


Alamat : Jln. Raya Karangkobar Km 08 Banjarmangu Kode Pos 53452
Desa : Kesenet
Kecamatan : Banjarmangu
Kabupaten : Banjarnegara
Kodepos : 53452
Telepon :
Email : [email protected]

Statistik Pengunjung

  • Hari ini : 99
    Kemarin : 309
    Total Pengunjung : 96,355
    Sistem Operasi : Unknown Platform
    IP Address : 216.73.216.70
    Browser : Mozilla 5.0